Purbalingga

 Purbalingga Tempoe Doeloe….

  

Dilupakan sayang

Dimanfaatkan, tak usah bimbang

Kebudayaan Megalitik merupakan kebudayaan yang lahir dari kepercayaan terhadap roh leluhur/ roh nenek moyang. Para leluhur dianggap mempunyai kekuatan supranatural yang dapat memberikan keselamatan dan kesejahteraan bagi masyrakatnya. Oleh karena itu, masyarakat Megalitik melakukan pemujaan terhadap roh nenek moyang yang dilaksanakan dengan ritual untuk menjaga hubungan antara roh leluhur dengan manusia di dunia. Dalam melakukan kegiatan upacara, masyarakat menciptakan sarana berupa media yang berfungsi sebagai symbol leluhur, serta mempunyai kebiasaan untuk membangun sarana tersebut di tempat tinggi seperti gunung, karena percaya bahwa roh leluhur bertempat tinggal di tempat tinggi.

TEMUAN MEGALITIK DI  PURBALINGGA         

Adapun tinggalan Megalitik yang ada di Kabupaten Purbalingga, tersebar di berbagai kecamatan, antara lain:

  1. 1.      Kecamatan Kemangkon 

Situs megalitik di temukan di Dusun Sukasada, Desa KedungBenda, Pada koordinat 109o20’30”BT, 07o28’27”LS. Situs ini berada di lingkungan penduduk. Temuannya berupa palus dari batu andesit yang berbentuk lonjong yang pada salah satu ujungnya di pahat menyerupai bentuk alat kelamin laki-laki. Panjang keseluruhan 85cm, Lebar30cm dan 22cm. selain itu, dilokasi tersebut juga terdapat lingga dan yoni yang berada satu konteks dengan temuan palus. 

  1. 2.      Kecamatan Bobotsari 

Di Dusun Pamujan terdapat temuan megalitik di tiga lokasi yang saling berdekatan yaitu berupa menhir dan struktur batu. Lokasinya berada di titik koordinat 07o17’02”LS dan 109o22’12”BT dengan ketinggian 250m diatas permukaan air laut. Temuan megalitik pada lokasi pertama terdiri dari dua buah menhir yang didirikan sangat berdekatan. Kondisi kedua menhir itu miring kearah utara ( Roboh ) dengan kemiringan 5⁰.

Pada lokasi kedua, di temukan struktur batu adesit yang saat ini tidak dapat di amati lagi bentuk utuhnya karena sebagian besar tertutup oleh bangunan rumah Penduduk. Batu – batu tersebut di tata rapi sehingga menyerupai garis lurus sepanjang 50m yang berada tepat segaris di arah selatan dari lokasi menhir.

Pada lokasi ke tiga, ditemukan dua buah menhir yang kondisi mirip sekali dengan menhir yang ditemukan pada lokasi pertama. Letakmenhir ini sejajar dengan menhir di lokasi pertama, yaitu di sebelah timur pada jarak ±50m.

Di dusun Glempang yang terletak pada koordinat 07o16’56”LS – 109o20’66”BT, di temukan sebuah dolmen menyerupai mejayang terbuat dari batu andesit yang disangga dua buah bongkahan kayu. Dolmen tersebut berada di tepi sungai Longkrang di sebelah kebun kopi yang terletak membujur arah utara – selatan. Di bawah meja batu terdapat piring dari bahan tembikar yang berfungsi sebagai wadah sisa pembakaran dupa yang telah menggunung. 

  1. 3.      Kecamatan Karanganyar 

Situs megalitik di temukan di dusun Batur, desa Krangen yang terletak pada titik 07o15’35”LS,109o24’47”BT. Temuan itu berupa situs kubur terbuat dari batuan andesit yang ditandai oleh dua buah batu tegak yang didirikan dengan orientasi utara – selatan. Tanda kubur tersebut di batasi oleh tatanan batu yang tersusun persegi dan berunduk, dimana kubur ini terletak pada undakan paling belakang. Kondisi tatanan batu berundak tersebut tertutup semak belukar yang sangat lebat. Sampai saat ini kubur  tersebut masih di keramatkan dan masih di kunjungi secara intensif oleh masyarakat. Hal ini terbukti dengan adanya sesaji dan dupa yang menggunung selain kubur batu di lokasi yang sama juga ditemukan struktur batu andesit setinggi 50cm yang membujur dari barat ke timur. Kondisi sebagian besar tertutup tanah dan semak belukar. Temuan ini menyerupai sebuah talud yang berfungsi sebagai batas undakan dari bangunan berundak. Di dusun kepyar, desa krangean yang berada di titik koordinat 07o14’28”LS,109o24’09”BT, di temukan enam buah kubur batu yang lokasinya di perbukitan terjal berdekatan dengan batas sntara dataran dan lereng. Tiap – tiap kubur dibatasi oleh tatanan batu, yang terbesar panjangnya 137cm. serta di dusun gamping desa Buara, yang berada pada posisi koordinat 07o16’37” LS, 109o22’57”BT di temukan lumpang batu yang berada pada suatu ruangan  yang dibatasi pagar batu. Selain lumping batu diruangan tersebut terdapat pula dua buah menhir yang didirikan yang mengapit lumping batu. Lumping ini dalam keadaan retak, memiliki cerat pada bagian kaki yang menempel dengan tanah. Situs ini tidak lagi di keramatkan oleh penduduk namun kondisinya relative baik dan terawat.

  1. 4.      Kecamatan Mrebet 

Di Desa Cipaku ditemukan situs megalitik antara lain terletak di Dusun Bata Putih pada koordinat 07018’15”LS,109019’49 BT,yaitu sebuah lumpang batu dan dua buah menhir.Salah satu menhir dimasukan kedalam lubang lumpang menyerupai susunan lingga-yoni.Kondisi situs pada saat ini masih dikeramatkan.

Situs megalitik pertama ditemukan di Desa Cempokoah,Dusun Brengkol pada titik koordinat 07017’25”LS,109019’04”BT.Temuan itu berupa menhir dan altar batu yang berada di puncak bukit yang dianggap sebagai tempat yang bernama Gerngenge oleh penduduk setempat.Altar batu yang berupa papan batu andesit(sudah pecah)berada disisi barat dari temuan menhir.

Situs megalitik kedua terletak di Dusun Karanganyar pada koordinat 07017’45”LS,109020’06”BT.Berupa lumpang batu berbentuk oval yang terletak dalam sebuah ruangan berpagar susunan batu andesif yang lokasinya berada di dekat sungai pada lingkungan perkebunan.Selain dua temuan tersebut masih terdapat temuan lain berupa menhir dan batu dakon di Dusun Kaliatosyang berada pada sumber air.

Situs megalitik ke tiga berada di wulayah Desa Onje yaitu berupa arca batu .Bentuk arca ini mirip mukamanusia tetapi tidak menunjukan bekas-bekas pahatan yang jelas.Masyarakat sekitar menyusun batu-batu andesit sebagi batur yang membatasi arca dengan permukaan tanah.

Situs megalitik ke empat di temukan da Dusu Kauman,pada koordinat 07020’03”LS,109021’59”BT.Jenis temuan berupa batu dakon.Lokasinya terletak di sisi barat pertemuan tiga buah anak sungai,yaitu Sungai Tlahap, Sungai Paku, Sungai Paingan. Ketiga anak sungai tersebut kemudian menyatu ke sungai klawing.Kondisi situs ini masih dikeramatkan tetapi tidak di rawat dengan baik.

Temuan kelima berupa arca batu di Dusun Brubahan pada koordinat 07019’59”LS,109022’10”BT,pada suatu ruangan berbentuk bujur sangkar yang dengan arca batu yang ditemukan di Dusun  Karanganyar.

  1. 5.      Kecamatan Kaligondang 

Di Dusun Karang tewang,Desa Pagerandong pada koordinat 07028’27”LS,109020’30”BT,ditemukan kubur batu yang masih dikeramatkan.Lokasinya terkenal dengan istilah  makam wangi  diperbukitan tepi Sungai Gintung.Temuan tersebut ditandai dengan dua buah menhir sejajar dengan jarak 100cm yang berfungsi sebagai nisan.Diatas permukaannya tertata bebatuan membentuk persegi.

 

  1. 1.      Kecamatan Karangmoncol 

Tinggalan megalitik ditemukan di Desa Karangsari antara lain di Dusun Tegalsari,yang berada pada koordinat 07019’10”LS,109027’33”BT.Situs ini berada diperkebunan tepi Sungai Masa,yaitu berupa dua buah menhir dan altar batu yang terletak didalam ruangan persegi dan dibatasi pagar batu.Di Desa Rajawana terdapat dua lokasi temuan situs megalitik.Pada koordinat 07017’22”LS,109029’39”BT dan 07017’30”,109029’36”BT.Lokasi pertama berada dilingkungan  perbukitan berupa kubur batu dan menhir.Jumlah kubur batu adalah 9 buah.Tandanya berupa dua buah menhir yang berada pada undakan bagian atas.Lokasi kedua berada dilereng perbukitan bagian barat.Temuannya berupa kubur batu,yang kondisinya masih sangat bagus.Kompleks ini dibatasi pagar dan struktur batu andesit dengan luas 11mX12m.Didalam pagar terdapat dua buah panggung kubur.Didepan pintu masuk yang berada disebelah barat terdapat lantai dari tatanan batu selebar 100cm yang memanjang ke arah jalan.Disebelah kanan dan kiri jalan batu terdapat dua buah panggung yang mengapit jalan batu.

Di Desa Grantung, semua megalitik terdapat didusun sura,pada koordinat 07019’07”LS,109028’39”BT.Situs ini terletak di lereng sisi utara gunung panungkulan. Di sebelah barat ±30 m mengalir sungai karang. Kondisi situs masih terawatt dengan baik. Areal situs dilindungi pagar bamboo dan dilengkapi pintu masuk yang selalu terkunci. Didalamnya terdapat tiga buah bangunan beratap ijuk. Jenis temuannya adalah bangunan berundak yang saat ini berfungsi sebagai pondasi bangunan bamboo. Dalam bangunan tersebut terdapat dua buah palus dan sebuah lingga.

Di desa keramat, tinggalan megalitik terdapat di dusun keputihan pada koordinat 07o15’52”LS,109o27’00”BT. Situs ini berada di lingkungan pemukiman penduduk, yang berupa menhir yang dikeramatkan. 

  1. 2.      Kecamatan Rembang 

Situs megalitik di wilayah kecamatan Rembang Terletak di dusun Kebun Makam, Desa Makam pada koordinat 07o17’19”LS,109o30’03”BT. Situs ini berada di kompleks pemakaman umum berupa menhir dari batu andesit yang panjangnya 150 cm dengan diameter 40cm.

  1. Kecamatan Karangreja

Di temukan  di Desa Karangjambu, dusun Bandingan , Pada koor dinat 07o13’20” LS, 109o33’50”BT. Lokasinya terletak di sebuah bukit yang di tumbuhi pepohonan yang sangat lebat byang dinamakan bukit Gombong Bandingan yang dilindungi sebagai lokasi cagar Alam. Jenis semuanya berupa menhir, batu altar, batu dakon batu relief, Phalus, dan kubur batu.

B. BENTUK-BENTUK BANGUNAN MEGALITIK

Dari berbagai peninggalan tersebut dapat dianalisis secara artefaktual, dapat kita kelompokkan berdasarkan jenisnya, yaitu:

  1. 1.      Bangunan Berundak 

Tinggalan bangunan berundak di temukan sejumlah 6 buah, yaitu situs batur, gampingan, Karanganyar, Kauman, Tegalsari, dan sura. Bangunanberundak pada situs – situs tersebut memiliki cirri yang hamper sama yaitu berundak gasal, berdenah persegi, berpagar dan berpintu serta memiliki objek utama di undakan teratas. Obyek utamanya antara lain menhir, Lumpang batu, batu dakon, dan palus. Orientasinya menuju kearah utara ( situs Bature kauman ) dan sisanya ke arah barat atau puncak gunung slamet.

  1. 2.      Menhir

Temuan menhir pada situs – situs megalitik di Purbalingga sejumlah 71 Orang, yang terbesar adalah 14 situs. Berdasarkan konteks temuan, menhir tersebut di kelompokan menjadi 3, yaitu menhir yang berada di situs penguburan sejumlah 53 buah, di situs pemujaan 13 buah, di pemukiman penduduk 5 buah. Menhir di situs penguburan ditemukan berjajar dengan posisi utara – selatan dan berfungsi sebagai nisan kubur. Di situs pemujaan berada di konteks dengan punden berundak, lumping batu, batu altar, dan batu dakon. Sedangkan di pemukiman penduduk tidak memiliki konteks dengan bangunan megalitik lainnya. Berdasarkan konteks temuan maka dapat disimpulkan bahwa fungsi menhir di Purbalingga adalah sebagai tanda kubur dan media pemujaan. Dalam pengertian umum biasanya menhir dianggap berfungsi untuk menghormati seorang tokoh baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

  1. 3.      Lumpang Batu 

Di purbalingga di temukan 3 buah lumping batu yaitu di ditus batu putih, Gempingan, dan karang anyar. Ketiga lokasi tersebut merupakan lahan pertanian dan berdekatan dengan air. Lumpang batumerupakan benda yang dianggap sacral. Lumping batu pada umumnya merupakan komponen penting dalam masyarakat agraris, yaitu berfungsi praktis sebagai alat atau wadah menumbuk padi atau  biji – bijian. Dalam konteks megalitik di Purbalingga benda ini berubah menjadi benda sacral, yaitu sebagai sarana upacara pemujaan. Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa lumping batu berfungsi sebagai symbol dari suatu pengharapan akan kesuburan bagi hasil pertanian.

 

  1. 4.      Phallus

Phallus di Purbalingga di temukan sebanyak 3 buah, yaitu di situs kemangkon, sura dan bandingan. Phallus adalah benda peninggalan megalitik yang terbuat dari batu berbentuk lonjong dimana pada salah satu ujungnya dipahatkan bentuk alat kelamin laki – laki, menurut kepercayaan masyarakat megalitik, organ tubuh manusia dianggap  memiliki kekuatan gaib dan alat kelamin merupakan objek yang paling kuat mengandung kekuatan gaib tersebut. Fungsi phallus dikaitkan dengan  fungsi alat reproduksi manusia yaitu sebagai sarana upacara kesuburan.

  1. 5.      Kubur Batu 

Situs kubur yang di temukan  di purbalingga sebanyak 7 buah. Batas kubur dilakukan dengan menutup permukaan tanah dengan batas susunan batu. Tanda kubur berupa dua buah menhir yang ditanam dengan orientasi arah utara – selatan

Dalam budaya megalitik di Indonesia di kenal berbagai system penguburan, antara lain dengan menggunakan wadah kubur dan tanpa wadah kubur. System penguburan yang digunakan oleh masyarakat  megalitik di Purbalingga adalah penguburan tanpa wadah dengan tanda kubur berupa menhir. 

  1. 6.      Batu Dakon 

Batu dakon di wilayah Purbalingga di temukan sebanyak 2 buah, yaitu situs kaum dan situs kualitas. Sampai saat ini dakon tersebut masih di keramatkan dengan pemberian sensasi. Bahkan di situs kauman, dakon merupakan objek pemujaan utama pada undakan teratas. Penempatan ini menandakan kesakralan. Kesakralan dan penempatannya yang berada di dekat air merupakan indicator bahwa benda ini berfungsi sebagai sarana pemujaan terhadap air pada upacara kesuburan.

  1. 7.      Dolmen

Dolmen adalah peninggalan megalitik yang bentuknya menyerupai meja batu yang terdiri dari bongkahan batu yang di tompangi empat buah batu yang salah satu ujungnya ditanam di bawah tanah. Fungsi dolmen berkait dengan upacara pemujaan sebagai tempat meletakan sesaji. Di Purbalingga hanya di temukan satu buah.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s